Selasa, 07 Mei 2013

Tekanan untuk menjadi " Gadis Polos " dalam drama korea

0 komentar





* Original translated from : beyondhallyu
translated & revised by : tria
Berapa banyak drama yang kita tonton yang menggabarkan tokoh wanita yang berusia akhir 20-an yang belum pernah sama sekali jatuh cinta? ini sering terjadi di hampir semua drama dan saya yakin bahwa saya bukan satu satunya yang berpikir bahwa ini aneh. Mari kita berbicara jujur, bahwa ini bukan skenario yang merefleksikan potret kehidupan masyarakat tapi lebih kepada inti utama dari cerita drama. Apa yang membuatnya lebih menarik, atauu BAHKAN -- mengganggu bahwa hal ini jarang terjadi pada pemain utama pria.

Goo Jun Pyo tidak memandang sama sekali para wanita yang berlomba mencari perhatiannya
Pemeran utama pria seringkali bertolak belakang dengan pemain utama wanita terutama dari segi seksualitas. Sementara perempuan masih "murni" pria lebih "mata keranjang" . Mereka main mata dengan wanita di club, dan sering melakukan one night standing dengan para wanita. Wanita yang baru saja mereka temui bahkan terkadang tidak mengetahui latar belakangnya, asalkan mereka mempunyai chemistry maka jadilah ONS ( one night stand ).

Ini merupakan fakta yang jelas dan terbagi dua. Pria yang aktif secara seksual itu menarik dan mereka adalah subyek utama. Mereka mempunyai perasaan, perkembangan, konflik, dan suara yang jelas dalam drama. Para penonton tepuk tangan untuk mereka sekaligus juga merasakan penderitaan dalam konflik dramanya. Wanita yang aktif secara seksual merupakan obyek. Mereka disana layaknya " penghias " dalam drama dengan tujuan untuk menunjukan kekuasaan pria dalam mendominasi sebuah hubungan. Para pria ini diperbolehkan menjadi pusat perhatian dan prince charming sementara wanita tidak. 

Stereotipe nya seperti ini " Lelaki yang pernah melakukan sex = keren, wanita yang pernah melakukan sex = buruk / jelek "adalah tanda tanda parsial yang mendasar dalam lingkungan masyarakat atau salah satu dari alasan mengapa pria lebih punya andil dan kekuatan lebih besar. Media banyak sekali memfokuskan bagaimana wanita itu sangat polos dan merekalah yang akan menarik perhatian utama pemeran utama pria. Pesan yang ingin disampaikan sebenarnya simple : " menjadi wanita yang polos adalah karakteristik yang diperlukan oleh seorang wanita, bersamaan dengan menjadi wanita yang baik dan punya etika yang kuat." Menjadi seorang wanita dengan daya tarik seksual yang tinggi adalah hal minim yang kurang menarik. Dimana masyarakat korea lebih cenderung konservatif secara seksual dibandingkan barat, ini bukan berarti bahwa apa yang disebarluaskan melalui Tv harus kita percayai. Berdasarkan Ensiklopedi seksual internasional tercatat bahwa di tahun 1966 separuh dari gadis di korea telah mempunyai pasangan seiring dengan kelulusan mereka di SMA, dengan presentase yang bertambah seiring waktu. Di waktu yang sama 16.7 % remaja aktif secara seksual. Walaupun ini harus dibaca bersamaan dengan studi kasus yang menemukan bahwa 61.1 % dari wanita dewasa dikabarkan tidak pernah mengalami pengalaman seksual.

Penghapusan aktifitas seksual datang dari adanya larangan, Namun masyarakat korea berubah. Orang orang kemudian mulai menikah dan bertambahnya menikah atas dasar cinta. Mereka melakukan sex diluar dari pernikahan dan pada saat belum menikah. Bagaimanapun, nilai nilai tradisional yang mendikte bahwa melakukan seks sebelum nikah adalah salah. Ini kemudian menjadi tekanan dalam masyarakat korea.

Karena adanya ambigu ini dan juga sensor dari televisi yang memudahkan drama untuk mengatur status kuo dari isu seks yang ganjil ini. Dimana tidak ada aktifitas seksual sampai pada tahap menikah, bukan satu satunya pilihan yang orang bisa punya. Saat drama menyuguhkan dan mengekspose aktifitas seksual wanita dengan tidak adanya happy ending, mereka para media berushaa untuk menyampaikan pesan tersembunyi dan juga progaganda situasi yang tidak nyata. Realita yang ada tidak seperti yang ada di drama, dalam dunia realita tidak semua wanita mau menunggu hingga menikah dan juga ingin menjadi istri. Korea dikenal sebagai negara yang mencegah wanita untuk mendapatkan promosi jabatan dan bahkan memecat wanita taktala mereka sudah menikah. Hal ini yang membuat wanita banyak yang tidak dapat bertahan. Wanita dikatakan bahwa mereka dilarang untuk melakukan hubungan intim sampai menikah dan mereka tidak boleh punya karir yang mereka inginkan saat sudah menikah. Ini merupakan hal yang sulitnya luar biasa untuk dihadapi. Fakta bahwa media menyanjung posisi pria membuatnya semakin sulit. Pria diperbolehkan mempunyai kebebasan baik secara personal maupun publik dimana wanita sebaliknya. Ini adalah isu seksualitas yang melebihi standar. 

Salah satu potret wanita yang masih cenderung murni dan polos
Drama hanyalah sebuah bisnis yang menuruti permintaan pasar. Namun apa yang sangat sangsikan adalah tidak adanya ruang untuk menunjukan variasi dalam hubungan yang lebih romantis lagi. Drama di tahun 2012 merupakan rangkaian yang jelas bahwa tidak adanya celah untuk berinovasu tanpa mengorbankan kesuksesan finansial. Dan juga banyak film korea yang sukses yang mempunyai tema seksual yang jelas seperti "The King and the Clown (2005)" dan "The Housemaid (2010)". Tv juga saling berlomba lomba untuk melakukan sensor yang serius terhadap isu ini, dimana cenderung masih akan adanya tendensi dari dominasi potret seksualitas. Jika kita menengok ke drama hit " Reply 1997 " yang secara gamblang menggambarkan bagaimana cupunya pasangan sebelum mereka menikah. Jadi siapa yang berkata bahwa tidak ada ruang untuk menampilkan variasi dari sebuah hubungan dalam TV drama??