Rabu, 10 Oktober 2012

Thank You. I Love You, NQx ~

0 komentar
Entah apa yang kemudian mendasari saya akhirnya bisa menuliskan ini...tapi seperti semesta menunjukan jalannya... secara tidak sengaja saya membuka blog seseorang yang menginspirasi saya untuk menulis ini dikarenakan kami punya kesamaan kisah yang dilalui.. :) dia menuliskan sesuatu hal yang HARUSNYA banyak orang melupakannya...dalam rangka move on total..*haha yeah~ semoga tulisan ini bisa membuat saya jauhh lebih baik lagi kejiwaannya...:)

well.. anyway here's the task!! 
Pikirkan 1 saja hubungan yang paling bermasalah dan penuh konflik, yang masih menyakiti kalau diingat (atau masih dijalani?). Bersyukur untuk masa-masa indah dalam hubungan itu dan tulis 10 hal baik dari hubungan itu. NO NEGATIVE COMMENT ALLOWED. Akhiri tiap poin dengan: “I’m sorry. Forgive me. I love you. Thank you.” meskipun kamu yang tersakiti.


sebetulnya bingung mau jawab apa ya...selama saya hidup saya pernah menjalani 2x hubungan penuh konflik..tapi sebaiknya saya ceritakan yang terakhir saja yang masih sangat membekas dalam ingatan dengan baik! :D


Saya pernah berjanji dengan sangat tidak akan menulis lagi tentang kamu, tapi saya mengingkarinya. Iya, Saya memang bukan tipe yang bisa menepati janji dengan mudah dalam soal cinta, bahkan saya akui saya bodoh dalam soal ini. Kenapa saya mengingkarinya, entah mengapa ada dorongan kuat di hati kecil ini untuk menulis lagi tentangmu yang harusnya saya kubur dalam dalam,,,namun sekali lagi..semesta seperti menunjukan jalannya...jari ini kemudian mendirect ke blog seseorang dan seketika otak ini gemuncak penuh sekali dengan luapan luapan emosi yang tak tersampaikan..bahkan tidak pernah tersampaikan saat dulu bersamamu...

Segalanya tentang kamu langsung memenuhi tiap lekuk memori saya.Tiap tarikan nafas, tiap air mata yang mengalir saatmengingat kamu, tiap senyum yang tanpa sengaja mengalir karna terlintas tawamu dalam ingatan saya, semuanya menuliskan tentang kamu. Kamu hampir tumpah di otak & hati saya. Maafkan saya Nuku~

Jadi harus mulai dari mana untuk bisa menggambarkan seperti apa perasaan saya saat ini sesaat setelah beberapa waktu lalu kamu memutuskan untuk menghapus kita....dari rangkaian cerita asam manis nano nano dalam hidup saya. Kamu pasti tahu persis sehancur dan seterluka apa jiwa & raga saya saat kamu memilih pergi di saat saya sedang berusaha untuk bisa memulihkan kembali hati saya...dan terutama psikologis saya...ya hati saya yang dulunya dingin bak es..yang nyatanya di luar terlihat tegar, riang gembira, tapi kosong di dalamnya... :')
Kamu memaksa saya berjalan keluar dari puzzle ini, dari jebakan mimpi tanpa petunjuk arah. dan memang mungkin seharusnya begini..akhir kisah cerita cinta dari torehan garis takdir tuhan yang mempertemukan kita dengan cara yang sedikit salah.. :') 
Tapi terima kasih, saya jadi tambah kuat dan berani. Karena kamu, sekarang saya sedang berjuang bangkit melawan psikomatis saya sendiri..memungut sendiri serpihan ini...merangkainya kembali dengan sekuat tenaga, saya akan berjuang seprti yang kamu inginkan dalam pesan terakhirmu...

Saya tahu bahwa kamu pun mencintai saya meski saya tahu cintamu tak sebesar padanya yang sudah lama dengamu..ya saya cuma Koma, tapi bukan sembarang koma..bahkan jauh lebih berharga untuk bisa dianggap hanya sebuah koma & bentangan jarak yang terhalang..
Kamu terlalu takut bahwa jika kisah kita dilanjut seperti ini akan melukainya...iya saya pun harus dipaksa untuk mengerti semua...ini juga sangat melukai saya yang sudah berulang kali seperti ini..tidak ada yang mau berada di jalan seperti saya tentunya :')
Namun lebih dari itu semua, TERIMA KASIH telah mencintai saya dengan cara yang kamu pilih sendiri, dengan cara yang hanya kamu & Tuhan yang memahaminya....

Saya memang Sangatt sangatt payah dalam perkara melupakan, namun saya lebih berani dalam mencintai seseorang...Bedanya,,,Kamu Mencintai saya dengan cara melupakan, sementara saya memilih mencintai kamu dengan cara mendoakan~~
Untuk sekian banyak kejadian yang mengisi perjalanan kita selama kurang lebih 1 tahun lebih saya ingin menyampaikan :
  1. Telah menjadi seseorang yang pernah hadir dan sangat berarti dalam hidup saya walau hanya sesaat dan menyalakan kembali kehangatan akan rasa cinta kasih sayang di hati saya...Thank you.I Love you Nuku,,
  2. Telah menjadi seseorang yang menjadi teman dekat saya...teman curhat saya tentang keluh kesah saya..cerita kita bersama sampai pagi,,,semua nasihat bijakmu, semangat darimu & motivasimu terhadap saya...Thank You. I love you Nuku..
  3. Telah menjadi seseorang di barisan depan yang secara jujur dan terbuka mengkiritik segala sesuatu tentang saya...kritikan pedasmu itu menamparkan dan banyak menyadarkan... :) Thank you.I Love you Nuku.
  4. Telah mengajarkan kepada saya apa itu hidup sederhana , kesederhanaan &bahagia dengan cara  yang sederhana...yang selalu membuat saya terharu karenanya...Thank you, I Love You Nuku.
  5. Telah  mengajarkan kepada saya bagaimana caranya untuk bisa lebih banyak mendengarkan daripada berbicara...dan mengikis banyak keegoisan saya..Forgive me.Thank You Nuku
  6. Telah mengajarkan saya bagaimana caranya pelan pelan menjadi seorang calon istri yang baik..saya akan ingat & terapkan nanti saat saya benar benar menjadi seorang istri & calon ibu. Thank You. I Love you Nuku.
  7. Menjadi seorang yang pertama yang mengetahui & menerima kekurangan saya..dan bahkan bersedia mengelap setiap saya belekan..hiks, bahkan kalau saya menangis belek ini lebih banyak keluar dan bisa dibayangkan makin jeleknya muka saya :D Thank You. I Love You Nuku.
  8. Selalu sabar dalam menjelaskan dan mengajarkan saya akan sesuatu...Forgive me yang lemot dan serba kekurangan ini :') Thank you. I Love you Nuku.
  9. Selalu menjadi pembaca pertama tiap tulisan yang lebih mirip ‘curhatan sampah’ yang memenuhi blog-ku. Thank you. I Love you. Untuk beberapa tulisan yang menyinggung perasaanmu, maafkan aku
  10. Dan dari keputusanmu untuk mengakhiri kisah ini saar aku sedang cinta cintanya padamu, tentu saja aku belajar lebih banyak lagi tentang kehilangan, kesabaran, ketabahan, kesetiaan, pengorbanan, serta belajar memaafkan juga melapaskan dengan ikhlas. Kamu mengajarkan saya untuk lebih bijak dan dewasa dengan cara yang memang agak perih menyakiti hati dan harga diri saya. Tapi saya meyakini satu hal, bahwa kamu memang datang dikirim tuhan buat saya sebagai salah satu proses menyakitkan yang pada akhrnya membahagiakan di hidup saya, dan apa sebenarnya hidup. Bukankah?? Thank you. Forgive me. I Love you. I Love you. I Love you Nuku~~ :)

Hampir lupa, terima kasih sudah bersedia untuk melihat perkembangan saya di social media dan kemarin menelfon just to say intermezzo. Tidak butuh waktu banyak untuk menyelesaikan tulisan ini, walau sepanjang penulisan ini air mata saya tidak pernah berhenti mengalir..dengan shuffling playlist yang sangat mendukung sekali, tiap tulisan ini kutulis dengan menarik nafas panjang dan dalam...demi melepas rindu...saya sangat merindukan kamu. I am sorry. Forgive me. I love you. Thank you Nuku~~


Ah, terima kasih sudah mau mampir dan meramaikan hidup saya yang membosankan. Jika di tengah perjalananmu menuju pulang kau berpapasan dengan lelah dan ketidakbahagiaan, kau tahu kemana harus melangkah.
Akulah pintu yang melepas kepergianmu dan menyambut pulangmu.~
I’m sorry. Forgive me. Thank you. I love you. I love you. I love you, NQX~


Bandar lampung, 00:00 right at Midnight of October 10 2012. Ditemani Kunu kunu, Boneka teddy bear pemberianmu pertama dan terakhir sebagai pemenuh janjimu sebelum kita berpisah jua...semoga kebahagiaan menyertai kita semua...



Jumat, 28 September 2012

Sudahkah kamu merasa Tenang Tria??

0 komentar

Ya saya Haqul Yaqin Ainul yaqin Menjawab : “iya, saya sudah merasa 100 % tenang…Jiwa & perasaan saya.. “

Akhir akhir ini saya banyak merenung..mengingat kembali flashback ke kejadian kejadian yang sudah dialami & baru saja dialami..

Teringat beberapa hari yang lalu seorang teman berkata saat makan malam bersama : “ tria, apakah kamu pernah mengalami sesuatu hal yang sangat membuat kamu sedih & down? “
Seketika aku langsung terdiam di tengah santapan makan malam : “eh..” gumamku.. “err..iya..itu yang bagian mana ya??, terlalu banyak kesedihan dalam hidupku..jadi bingung mau yang mana” jawabku seraya tersenyum polos…
Ya..laki laki itu kembali menatapku tajam…
Sorot mata elangnya itu serasa membius bagai setajam keris yang langsung menghunus hatiku…

Tidak..ini bukan perasaan jatuh cinta gumamku..tapi lebih ke perasaan..iya, dia mencoba men tracking pikiran aku,,masa lalu ku & diri ku..
Si mata elang dengan bingkai kacamata frame Oakley favoritku kembali berkata : “ bukan..ada satu hal..itu yang buatmu sedih…”

Baiklah…haruskah aku menjawab pertanyaan ini dengan jujur mengingat aku tidak bisa bohong..ku tahu ubun ubun di kepala ku bergejolak tanda bahwa dia sudah mulai membaca aku,,,
“ ya..aku pernah ditinggal nikah oleh orang yang sangat kucintai..dan makanya skrg aku berfikir bahwa lebih baik ditinggal mati dibanding harus merasakan ditinggal nikah lagi.,aku benci ditinggalkan,,,” jawabku lirih….
“ kapan itu kejadiannya..?? “
“ 2 tahun yang lalu.,dan itu yang membuat psikologisku sempat hancur & sangat tidak stabil sampai sekarang..”
Hmm…kulihat di dahinya mengkerut..seraya memikirkan sesuatu…
Yah..itulah segelintir perbincanganku dengannya..dan saat pulang menyisakan banyak sekali petunjuk dan beberapa petunjuk pencerahan..

-------------- +++++++++++++ ----------------------

Sepulang itu aku banyak bergumam…berbicara pada diri sendiri…dan merenung..kembali masuk dalam fase Galau Tingkat Dewa…ditambah bawaan tamu datang bulan yang gampang sekali membuat mellow suasana…

Ya..aku sedang berada di roda kehidupan bagian bawah…aku sedang terjatuh dari yang seharusnya berada…

Tuhan sedang memberikan fase kenaikan hidup padaku..proses pematangan yang menyakitkan namun penuh hikmah…

Harus aku bilang dalam ambiguitas bahwa aku benci sekaligus bersyukur di bulan September ini..

Bahwa aku kembali kehilangan & ditinggalkan lagi oleh orang yang aku sayang..sekaligus aku harus rela ikhlas melepaskan pekerjaanku yang sangat kusayang…

Rasa marahku..ketidakberdayaanku & kekecewaanku..serta merta bercampur aduk layaknya adonan kue…

Rasa direndahkan dan tidak dihargai atas jerih upayahku..menyisahkan energy negative yang masih sangat membara…

“ Aku sudah memaafkanmu..iya aku sudah memaafkanmu…lirihku dalam hati..sudah lupakan yang sudah terjadi..ini sudah di luar kendalimu tria,,ini sudah kuasa Tuhan…dan juga perkara takdir.. “
Iya…aku sudah coba lupakan perlahan namun pasti…kuharap ini tidak berlangsung lama..walau tak ku pungkiri….kecewa aku ,, gagal mendorongmu ke arah kebaikan,,nyatanya sekarang aku memperhatikanmu masih berkubang dalam lubang hitam itu…

Ya sudah..aku berhenti menyalahkan diriku lagi… sudah berupaya semampuku…separuh diriku bilang..ah sudah biarkan saja..ngapain diurusin nanti bkin kamu sakit aja..separuh lagi bilang..tapi..kenapa dia ga sadar sadar sih..aku masih care  & sayang bgd sma dy..dan aku pgn lht dia berubah jadi lebih baik dari skrg…semata kulakukan karna aku teringat hajat dia untuk bisa membahagiakan orang tua & keluarganya…

Namun..aku memilih diam..dan mendominasikan pikiranku dibanding perasaanku sekarang…

Sudah ..aku akan memilih untuk bisa lebih membahagiakan & lebih menghargai diriku sendiri..

Maaf..kamu yang dibelakangku..aku tahu kamu masih bersedih..Jangan murung terus ya..aku tahu belum waktunya kita berjumpa lagi…aku juga perih lihatmu muram terus…kita berdoa saja suatau saat dia pasti akan sadar & menyadari ini semua…dan kembali ke jalan yang benar..dan kamu pun pada akhirnya bisa tersenyum cerah kembali supaya cantikmu kembali adanya.. ^_^

Dan masalah yang kedua..adalah tentang diri aku & nasib kehidupan ku skrg..

Ya beberapa waktu yang lalu pun aku mendapatkan pekerjaan yang aku sangat sukai…

Game Industry..hal yang sudah dekat sama aku sedari kecil..dan public relations..sebuah posisi yang memang daridulu cita citaku & aku pernah berdoa untuk bisa ada di posisi itu,,,

Iya..Tuhan memang memberikan semuanya…selalu menjawab doaku..namun nyatanya ternyata ini bukan yang terbaik buatku…

Aku harus dihadapkan pada pilihan yang sulit..Idealisme ku bergejolak dan sekarang yang sama beratnya..yakni mematuhi keinginan orang tuaku..

Aku memilih untuk meninggalkan pekerjaan & dunia yang sangat kusukai…dengan berat hati dan berlinang air mata…sedihnya itu seperti berasa.. habis putusan :’)

4 bulan aku mencoba untuk menjalani idealismeku..namun ternyata bentrokan keras datangnya dari Doa orang tua yang sangat kuat..aku pernah mendengar bahwa Ridho Orang Tua adalah Ridho Allah…ya dan sekarang aku sangat sangat sangat merasakannya sekali gejolak batin ini,…

Kasarnya aku memang tidak diridohi kerja di bidang ini..walau aku bersikukuh membuktikan pada mereka..namun apa daya..benar..sudah waktunya aku menjadi anak yang penurut apa kata mereka..karna orang tua tau apa yang terbaik buat anaknya… 

Jadilah sekarang aku seperti ini.. rasanya seperti malu setengah mati.. gagal jadi anak yang bisa membuktikan ke orang tua…sedih rasanya… Namun seorang sahabat menguatkan aku berkata bahwa : “ sudah tria, lakukan sewajar & semampumu saja…yang penting terus ikhtiar, doa , usaha & sedekah yang jangan terputus… “ :’)

Obat kegalauan aku selain melakukan ritual seperti biasa..dan entah mengapa aku langsung ingin membaca kembali buku “ Pemulihan Jiwa “ yang daridulu aku beli tapi belum sempat terbaca…

Ya aku akhirnya  membaca buku tersebut… sesak & berlinang air mata makin menjadi.. namun pada saat akhir akhir mendekati buku tersebut…aku seperti merasakan adanya angin segar…ya seperti mendapat pencerahan tiba tiba..

Dan aku makin memaknai kata per kata bait per bait dari buku tersebut..buat aku itu lebih dari sekedar kata kata motivasi..tapi seperti hypnotherapy…

Kemudian aku menjadi semakin tenang…tenang…tenang…dan rileks…mulai banyak bersyukur dan memaknai semuanya sebagai sesuatu yang baik, lebih bijak & ikhlas… 

Semua sudah ada porsi & waktunya tria…Jangan Khawatir.. Skenario Tuhan itu tidak pernah salah…GOD Design not Only in Right Way..but in a Perfect Time…

Kamu pasti akan mendapatkan hikmah dan balasan setimpal atas semua jerih payah dan upayamu…
Selalu katakan : “ Ya saya sudah tenang & Ikhlas Ya Allah..saya siap menerima berkah dan scenario barumu yang pastinya lebih baik… ^_^ “


Jumat, 07 September 2012

Kamu & bayangmu..

0 komentar

#30HariLagukuBercerita
# T’Ara Ft. Davichi – We Were In Love


Ini adalah kisah kita….

Kisah kamu & aku…

Dengan rentan waktu yang tak terasa sudah terlewati masa..

Kisah ini kutulis bertepatan dengan ulang tahunmu…7 September ini…
Di kala tengah malam kesunyian ini..

Saat Handphoneku berdering membunyikan alaram tentang ulang tahunku,,,’namun aku hanya terdiam disini.. tidak dapat berbuat apa apa… karna kamu sudah tidak ada lagi dalam hidupku…

“ Uri saranghaetjanha jebal na ullijima…ojik naegen no hanappunya.. “
- We used to love, please don’t make me cry.. To me Its Only you…
“ nunul gamado boyo gwirul magado dullyo…jebal na ttonagajima… “
When I Close my eyes, I see you – when I Block my ears, I heard you..please don’t leave me….

Nyatanya takdir berkehendak lain… kamu pun perlahan tetap pergi meninggalkanku…sama seperti dulu..

Berapa kali pun aku meminta.. tiada daya upaya untuk bisa menghadapi ini semua … kehilangan untuk beberapa kalinya…

Kehilangan merupakan suatu hal yang aku benci… namun Tuhan selalu mengajariku untuk bisa terus bertahan & kuat di tengah kerapuhanku….

Entah karma apa lagi atau salah apa lagi atau pembelajaran apa lagi yang mendidiku akan kerasnya arti kehidupan ini.. silir berganti datang dan pergi termasuk hadirmu…

Aku benci fase ini..

 sungguh ----


Jauh hari sudah kupersiapkan untuk menanti ultahmu.,. bahkan rencana untuk mengunjungimu di sela waktu sibukku & kado yang kupesan untukmu sudah 80 % jadi..

Namun balik lagi rasanya harus kutampar diriku & terutama hatiku ini keras keras bahwa aku ini bukan siapa siapamu..dan engkau pun secara status bukan milikku..

Mengapa cinta itu bisa datang dengan tiba tiba dan pergi dengan sakitnyaa ~~~

Mengapa aku tidak bisa sedikit saja atau merasakan bagaimana rasanya dibahagiakan oleh cinta sendiri,

Dan kenapa harus ada duka nestapa yang selalu menyelimuti~~


“ Najina bamina sarange nan mongmarun ja..”
- day & night im thirsty for love
“ Nol ijen iron naye gatjanhun dajimi tto dashi narul ullyo dullyo… “
- My unseemly promise to forget you makes me cry again..can you hear me???
Di depannya aku tidak mau terlihat serapuh ini.. 

bahkan saat terakhir kali kau meneriakkan kata kata perpisahan agar aku bisa move on.. tidakkah kau bayangkan betapa perihnya itu??

Ataukah hanya diriku saja yang merasakannya???

Menghapus rasa tidak semudah meniup butiran debu debu yang hinggap di kaca jendela… walaupun bisa pasti akan tersisa bekasnya…



fffff



Dan proses itulah yang paling menyakitkan dari semuanya…


“ doraolgot gataso dashi olji mollaso onuldo norul gidaryo.. “
- You might come back, because you might return , again today, I wait for you..
“ nonun moruji non moruji apajanun nal I norael hanun jigumdo..”
- You don’t know, you don’t know how much I’m hurting even as I sing this song..
Sendiri aku disini ditemani sunyi…

Namun aku selalu menyelipkan sedikit harapan di hati…

Akankah kesempatan itu bisa datang kembali suatu saat nanti…

Kesempatan saat kamu kembali & kita bisa bersama lagi…

Aku benci sendiri ~~

Aku benci harus menanggung ini kembali,,,,keluh kesah upaya & perasaan serta proses yang ku jalani kembali harus ku simpan rapat rapat…

Bagaimanapun cerita ini berakhir tetap ada hikmah yang bisa diambil..

Banyak sekali.. buat kamu maupun aku…

Dan bahkan aku sekali lagi harus berterima kasih kepada Tuhan telah mempertemukanmu selama setahun ini.. DIA meminjamkanmu untuk bisa mengirimkan rasa itu kembali yang sudah hampir sirna dariku..


“ Nanun tto utnunchok gunyang molljong hanchok..”
- I Pretend to smile, pretend to be Fine…
“ Noyege burunun majimak naye I norae…”
-  This is the last song I sing for you….

Sekarang aku harus kuat...
harus...
aku pasti bisa...bisa melawan rasa perih ini...
dan juga rasa ini...
namun aku tidak akan pernah memaksanya...
biarlah sang Khalik yang Maha Mengetahui yang terbaik buat kita...
serta berlangsungnya kisah sesudah ini semua....

Tuhan... Tolong beri saya kekuatan & Ketabahan....
Beri saya pengganti 1000 kebahagiaan sebagai pengganti luka & kesedihan... 


This is The Last thing you gave to me before we separated.. say farewell from kunu kunu ~~ :)

 - Yogyakarta 22 July 2012, This is the last picture taken ,, and will be the last pic of us...:')



Notes :

Happy Belated Birthday & farewell my dearie...
long live & prosperity may brought to you..
even i cant be in your life..
but make sure.. im still stay in your heart..

- 작별의 인사 & 난 당신을 사랑 






Rabu, 11 Juli 2012

karna aku puntak tahu

0 komentar
karna aku pun tak tahu...
sampai kapan hati ini akan terus berlabuh padamu..
berlabuh dan bersandar pada kisah cinta segitinya yang masih belum tahu akhrnya bagaimana...

hanya bisa terus memanjatkan doa setiap malam..
semoga kali ini aku tidak harus menjalani nestapa untuk kesekian kalinya.. :')

Jumat, 06 Juli 2012

~ LEBIH JAUH TENTANG TAKDIR & KEHENDAK (4-habis) ~

0 komentar

BUKAN FREE WILL, TAPI FREE CHOICE

Di bagian akhir tulisan saya tentang Takdir & Kehendak ini saya ingin menegaskan sekali lagi, perbandingan antara kehendak makhluk dengan kehendak Tuhan. Bahwa, kehendak makhluk itu berada di dalam kehendak Tuhan. Bagian yang tak terpisahkan, tetapi tidak sama. Ibarat setetes air di dalam samudera.

Apakah setetes air adalah bagian dari samudera? Tentu saja, jawabnya: ya. Apakah setetes air sama dengan samudera? Tentu saja, jawabnya: tidak. Air setetes dan dan air samudera adalah sama-sama air laut, tetapi banyak memiliki perbedaan. Mulai dari jumlahnya, kekayaan kandungannya, dinamikanya, power-nya, daya coverage-nya, informasi yang terkandung di dalamnya, dan seterusnya.

Meskipun, analogi ini tidak bisa sepenuhnya mewakili perbandingan antara makhluk dan Tuhan, tapi saya kira Anda bisa menangkap maksud saya. Bahwa, setetes air dan samudera adalah tidak sama, meskipun setetes air itu adalah bagian samudera yang sudah melebur di dalam samudera itu sendiri.

Karena itu, ketika kita berbicara soal kehendak makhluk di dalam Kehendak Allah, kita tidak boleh serta merta menyamakan antara keduanya. Seakan-akan kehendak kita SUDAH MEWAKILI kehendak Allah. Tentu terjadi distorsi pemahaman yang sangat jauh. Ibarat Anda mewakilkan kekuatan dan kekayaan samudera kepada setetes air laut. :(

Maka, perhatikanlah istilah yang layak digunakan untuk makhluk dan untuk Tuhan dalam hal ‘kehendak bebas’ ini. Untuk Tuhan lebih pantas kita gunakan FREE WILL – ‘kehendak bebas’. Sedangkan untuk manusia lebih pantas disebut free choice – ‘pilihan bebas’. Dari sini saja kita sudah paham seberapa bebas ‘pilihan’ yang dimiliki oleh manusia dibandingkan ‘KEHENDAK’ Tuhan.

Bahwa manusia tidak memiliki kemampuan berkehendak semau-maunya. Karena, ia sudah DIBATASI oleh desain penciptaannya. Badannya kecil, ototnya tidak seberapa, jangkauan pandangan dan pendengarannya terbatas, kekuatan organ tubuhnya juga ringkih, bahkan kemampuan otak yang dibangga-banggakan itu pun banyak mengalami distorsi. Jadi, mau berkehendak bebas macam apa sih manusia ini?!

Paling-paling, Anda hanya bisa memilih antara segelas coca-cola dan segelas air mineral. Atau, tambahkanlah sejauh perbendaharaan bahasa Anda tentang jenis makanan dan minuman, mulai dari dawet, bajigur, es teller, es cendol, teh panas, sampanye sampai vodka, dst. Semakin Anda berusaha menyebut daftar menu itu akan semakin tampak keterbatasan Anda. Hhehe.., ternyata hanya ‘segitu saja’ kehendaknya..!

Manusia TIDAK BISA berkehendak secara bebas. Yang bisa dia lakukan hanyalah MEMILIH dari apa yang sudah ada di sekitarnya. Bahkan, hanya dari yang dia KETAHUI saja. Tak lebih. Apa yang disebut ‘kebebasan’ itu ternyata secara natural sudah terbatasi dengan sendirinya oleh desain kemanusiaan kita. Saya suka dengan ungkapan ini: You can do every thing under My Rules..!

Maka, meskipun menurut saya tidak terlalu penting, jika hal ini mau diproyeksikan ke filosofi Newtonian, Einsteinian dan Holografik, kita bisa membedakan tingkat kebebasan makhluk terhadap Tuhan itu sedemikian rupa. Secara Newtonian, manusia memandang Tuhan sebagai SOSOK yang terpisah dari ruang dan waktu. Atau, malah ada yang memandangnya berada di dalam ruang & waktu. Misalnya ada yang mendefinisikan Tuhan berada di dalam surga. Atau, di langit. Atau di dalam hati. Atau, di alam akhirat. Sehingga menimbulkan komplikasi yang kontradiktif: Tuhan ada disana, dan tidak berada disini.. :(

Konsekuensi dari sudut pandang ini, makhluk menjadi ‘sosok berkehendak’ yang berada di luar Kehendak Tuhan. Sehingga muncullah istilah free-will bagi makhluk. Padahal, sebenarnya tidak ada free-will baginya. Yang ada ialah free-choice. Ketika pemahamannya sudah pada free-choice, sebenarnya kita sudah mulai melangkah ke filosofi Einsteinian yang memandang Tuhan meliputi makhluk-Nya. Bukan lagi sebagai sosok yang terpisah: Tuhan di surga, dan makhluk di Bumi.

Dalam tataran Einsteinian, ruang dan waktu alam semesta berada di dalam Tuhan. Tuhan sudah meliputi kehendak manusia. Sehingga kehendak manusia merupakan ‘bagian’ dari kehendak Tuhan. Jangan lagi membayangkan Tuhan sebagai ‘Sesuatu yang terpisah’ dari makhluk-Nya. Sayangnya, teori ini tidak bisa menjelaskan bagaimana ‘posisi’ makhluk di dalam Tuhan itu sendiri, karena Einsteinian hanya mendefinisikan alam semesta sebagai ruang berdimensi tiga. Sehingga kata ‘meliputi’ menjadi tidak jelas maknanya. Lha wong tidak ada ruangan yang lebih besar dari universe yang telah didefinisikan sebagai 3 dimensi.

Dengan munculnya teori Holografik, saya lantas bisa menjelaskan dengan lebih gamblang tentang 'posisi makhluk di dalam Tuhan’ secara lebih teknis. Termasuk, kehendak manusia di dalam Kehendak-Nya. Bahwa, makhluk bukan lagi ‘bagian’ dari eksistensi Tuhan, melainkan cuma hasil proyeksi dari diri-Nya.

Karena sifatnya proyeksi, maka hasil proyeksinya pasti memiliki derajat lebih rendah. Pasti juga, dimensinya lebih rendah. Pasti juga kualitasnya lebih rendah. Bergantung ini hasil proyeksi berapa kali dari masternya. Jika sebuah benda berdimensi tiga diproyeksikan sekali, ia akan menjadi benda berdimensi dua. Dan jika diproyeksikan lagi, ia akan menjadi benda berdimensi satu. Dan jika diproyeksikan lagi, dia akan menjadi ‘titik’, yang secara filosofis bermakna ‘ketiadaan’. Alias ilusi belaka. Ada simbolnya, tapi tidak ada isinya.

Dan menariknya, setiap kali kita memperoyeksikan benda, hasilnya selalu kehilangan sejumlah informasi seiring dengan hilangnya salah satu dimensi. Kalau ada sebuah kotak berbentuk kubus Anda sorot dengan lampu proyektor ke dinding, Anda tidak akan bisa lagi melihat ‘ketebalan’ kubus itu. Karena bentuknya sekarang menjadi sebuah 'bayangan' kotak tanpa ketebalan. Yang ada cuma panjang dan lebarnya saja. Selanjutnya, ketika diproyeksikan lagi Anda akan kehilangan sekali lagi sisi panjangnya atau sisi lebarnya. Karena ia akan membentuk sepotong 'garis'. Dan akhirnya, ketika diproyeksikan lagi, Anda akan kehilangan semua informasinya.

Begitulah perbandingan antara Kehendak Allah’ dengan ‘kehendak makhluk-Nya’. Karena kehendak makhluk adalah proyeksi dari Kehendak-Nya, maka Anda sebenarnya sudah kehilangan informasi sangat banyak tentang kehendak Allah itu. Anda sama sekali tidak akan bisa membayangkan Kehendak Allah, hanya dengan memahami kehendak manusia. Jika dipaksakan, akan menjadi absurd..!

Jadi, kalau saya ditanya: ‘’Di manakah unsur ‘free-choice’ (atau ‘bebas’nya) ketika peristiwa yang terjadi /kehendak manusia itu merupakan hasil “proyeksi holografik dari sebuah realitas tunggal” dari-Nya?’’

Maka, jawabnya ada dua:
Yang pertama, terjadi kesalahan mendasar secara filosofis (entah disengaja atau tidak) dalam mentranslate free-choice dengan ‘kehendak bebas’. Menurut saya, mestinya diterjemahkan sebagai ‘pilihan bebas’. Disini saya melihat ada kerancuan, atau keambiguan, atau kegamangan.

Yang kedua, jangan membayangkan ‘kehendak’ sebagai sosok materi, yang ketika diproyeksikan akan membentuk sesosok ‘kehendak’ pula. Kehendak adalah ‘daya dorong’ untuk melakukan sesuatu. Bentuknya tentu saja abstrak. Tidak bisa disosokkan. Sama dengan ‘waktu’ yang juga hasil proyeksi dari diri-Nya. Anda tentu tidak bisa mensosokkan waktu, meskipun ia adalah proyeksi diri-Nya. Lha wong ditanya ‘waktu’ itu apa sih, sudah kebingungan. Apalgi memahami dan melihat Masternya ‘waktu’.

Maka, lewat proyeksi holografik itu, manusia menjadi memiliki ‘daya dorong’ untuk melakukan sesuatu pula sebagaimana Allah. Tetapi, dalam skala yang sangat terbatas. Sehingga kita lebih pantas menyebutnya sebagai ‘pilihan bebas’. Bukan kehendak bebas.

Pertanyaan kedua tentang konsep free-choice dalam model Newtonian, Einsteinian, dan holografik sudah saya jawab dalam uraian di atas. Sedangkan pertanyaan ketiga: apakah Allah TAHU bahwa orang yang sakit itu sembuh (‘melihat’ proyeksi holografik diriNya yang real-time itu)? Ataukah Allah ‘menunggu’ respon dari manusia sakit itu untuk ‘mengubah’ takdirnya? Ataukah Allah tidak memiliki foreknowledge sama sekali?

Menurut saya, pertanyaan ketiga ini muncul dikarenakan belum utuhnya pemahaman penanya terhadap konsep holografik. Bahwa di dalam teori holografik tidak ada istilah ‘forekowledge’ ataupun ‘menunggu’, seakan-akan Allah berada di dalam deret waktu. Atau katakanlah: meliputi waktu. Karena, intisari konsep holografik adalah kejadian SEKARANG. Tidak ada masa lalu dan akan datang.

Setiap peristiwa adalah REAL-TIME sekarang semua. Urutan kejadian yang dibayangkan manusia itu hanya akibat dari persepsi otaknya, yang mengurutkan kejadian ‘sekarang-1, sekarang-2, sekarang-3, sekarang-4, dst…’ Karena itu, pertanyaan apakah ‘Allah tahu’ bahwa orang yang sakit itu AKAN sembuh?, sebenarnya TIDAK BERMAKNA dalam sudut pandang holografik. Karena, waktu di dalam-Nya tidak bergerak.

Kesalah kaprahan ini terjadi, karena kita MENGIRA Tuhan memandang realitas dengan menggunakan sudut pandang manusia yang berada di dalam ruang-waktu. Menjadi konyol. Dan ini memang menjadi kelemahan dari filosofi Einsteinian, yang lantas ditutupi oleh teori holografik.

Dalam sudut pandang holografik, Tuhan tidak bisa DIPREDIKSI sama sekali. Karena, tidak ada waktu untuk memprediksinya, sebagai konsekuensi proses yang real-time. Juga, dikarenakan kita sebagai manusia hanyalah PROYEKSI yang sudah mengalami DEGRADASI dalam skala tak berhingga dari ‘Sesuatu’ yang kualitasnya tak berhingga dan tak bisa kita bayangkan. Lha wong menebak kehendak saya saja Anda tidak bisa, padahal kehendak saya kan hanya proyeksi dari Kehendak-Nya, kok mau menebak-nebak kehendak Tuhan.

Maka, betapa pas dan indahnya ketika Allah membuat perumpamaan hubungan antara makhluk dengan Allah itu ibarat pelita dan cahaya. Makhluk ini hanyalah pancaran cahaya dari sebuah PELITA. Dimana pelita itu tersembunyi di balik kaca, di dalam sebuah lubang gelap yang misterius. Yang karenanya, Anda tidak akan pernah bisa melihat PELITA, Sang Sumber cahaya. Apalagi, kalau sekedar MENEBAK-NEBAK dari kejauhan berdasar cahaya yang dipancarkan-Nya. Ooalah, manusia.. manusia… !

QS. An Nuur (24): 35
Allah mencahayai langit dan bumi. Perumpamaan CAHAYA Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada PELITA besar. Pelita itu di dalam kaca. Kaca itu seakan-akan bintang  seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya. (Yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat. Yang minyaknya hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan ini bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Wallahu ‘alam bishshawab


~ Salam ‘Menjadi Cahaya-Nya’ ~

~ LEBIH JAUH TENTANG TAKDIR & KEHENDAK (3) ~

0 komentar

MEMAHAMI kehendakku DI DALAM KEHENDAK-NYA

Bagian yang paling ‘membingungkan’ bagi sejumlah kawan di dalam forum DTM ini adalah hubungan antara kehendak makhluk di dalam KEHENDAK Tuhan. Ujung pangkal kebingungan itu saya lihat bermula ketika kita mengira bahwa KEHENDAK Tuhan itu sama dengan kehendak kita. Atau, setidak-tidaknya, kita merasa tahu kehendak Tuhan, dan bahkan menempatkan diri lebih tahu daripada Tuhan. Hhehe.., lha wong menebak kehendak saya saja Anda tidak bisa, kok mau menebak kehendak Tuhan.. ;)

Untuk bisa memahami posisi kehendak manusia di dalam kehendak Allah, saya ingin mengajak Anda menelusurinya dari ujung pangkalnya, dan mengambil pijakan dari sumber otentik: Firman Allah.

1. Bahwa seluruh alam semesta ini adalah MILIK-Nya dan DILIPUTI-Nya. Baik itu berupa dimensi ruang, waktu, materi, energi, dan informasi. Termasuk peristiwa ‘baik’ dan ‘buruk’, anugerah dan musibah, adalah milik-Nya dan berada di dalam-Nya. Diliputi-Nya.

QS. An Nisaa’ (4): 126
Kepunyaan Allah-lah segala yang di langit dan segala yang di bumi, dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu.

2. Bukan hanya diliputi-Nya, baik dan buruk itu ternyata juga BERASAL dari-Nya. Orang-orang yang menganggap kebaikan datang dari Allah, dan keburukan datang dari manusia disebut sebagai ‘tidak mengerti’ pembicaraan.

QS. An Nisaa’ (4): 78
… Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?

3. Semua kejadian di alam semesta ini adalah KEHENDAK-NYA. Dan ketika menghendaki semua realitas ini Dia hanya mengatakan KUN – 'jadilah', maka mewujudlah segala yang Dia kehendaki itu. Termasuk ketika Allah menciptakan manusia.

QS. An Nahl (16): 40
Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "KUN (jadilah)", maka jadilah ia.

QS. Ali Imran (3): 59
Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa di sisi Allah, adalah seperti Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: KUN (jadilah), maka jadilah dia.

4. Karena manusia diliputi Allah, maka kehendak manusia pun diliputi atau berada di dalam Kehendak Allah. Bahkan, bukan hanya di dalam-Nya, melainkan ‘tidak bisa berkehendak’ kecuali dikehendaki-Nya.

QS. At Takwiir (81): 29
Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.

5. Lantas, kalau begitu apakah berarti kehendak manusia SAMA dengan kehendak Allah? Nah, disinilah distorsi pemahaman yang sering terjadi. Sehingga ada yang mengatakan: kalau kehendakku adalah kehendak Allah, kenapa saya masih disuruh bertanggung jawab? Kan ini sama saja dengan mempertanggungjawabkan kehendak Allah sendiri?

Kalau Anda mengikuti sejumlah notes saya tentang keberadaan makhluk di dalam Tuhan, mestinya Anda sudah bisa menarik kesimpulan yang cukup baik. Bahwa, berada di dalam Allah itu bukan berarti SAMA DENGAN Allah. Saya kira Anda masih ingat analogi ‘Himpunan Tak Berhingga’ yang memuat angka-angka. Jika Allah diibaratkan sebagai SEMESTA PEMBICARAAN dalam himpunan tak berhingga itu, maka makhluk bisa diibaratkan angka-angka yang menjadi anggotanya.

Misalnya, angka 1 adalah manusia, angka 2 adalah hewan, angka tiga tumbuhan, angka 4 adalah malaikat, dan seterusnya termasuk benda-benda langit, ruang, waktu, materi, energi, dan informasi, berserta dengan segala peristiwa yang terjadi di dalamnya. Maka, tentu Anda sudah bisa mengambil kesimpulan sendiri bahwa angka 1 tidaklah sama dengan angka ‘tak berhingga’. Atau dengan kata lain, manusia tidak sama dengan Tuhan meskipun manusia berada di dalam Tuhan.

Jika diperluas, kehendak manusia TIDAK SAMA dengan kehendak Tuhan. Penglihatan manusia TIDAK SAMA dengan penglihatan Tuhan. Pendengaran manusia TIDAK SAMA dengan pendengaran Tuhan. Dan segala sifat manusia TIDAK SAMA dengan sifat-sifat Tuhan. Manusia mendengar, Tuhan MAHA mendengar. Manusia melihat, Tuhan MAHA melihat. Manusia berkehendak, Tuhan MAHA berkehendak. Manusia berada dalam segala KETERBATASAN, sedangkan Allah dalam skala yang tak terbayangkan. Tak berhingga.

Perbandingan antara sifat manusia dengan sifat Tuhan adalah ibarat angka 1 dibagi dengan angka tak berhingga, hasilnya = NOL. Ya, manusia di dalam Allah adalah NOL alias semu. Ada lambangnya, tapi tak ada isinya. Itulah makna kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH – tidak ada sesuatu pun yang eksis kecuali hanya Allah. Siapa pun yang tidak bisa menerima kemutlakan eksistensi Allah ini berarti dia telah mengingkari syahadatnya.

Maka, memahami kehendak manusia di dalam kehendak Allah haruslah proporsional. Tidak serta merta MENYAMAKAN kehendak makhluk dengan kehendak-Nya. Kehendak manusia hanya menempati BAGIAN yang sangat PARSIAL dalam kehendak-Nya yang holistik. Dengan kehendak yang parsial itulah manusia bisa mengalami kekeliruan dan kesalahan yang menyebabkan terjadi keburukan padanya. Ini pula yang dikatakan Allah di dalam firman-Nya, bahwa kebaikan berasal dari Allah, sedangkan keburukan berasal dari (keterbatasan) manusia. Sebuah pemahaman yang seakan-akan kontradiktif dengan ayat 'kehendakku di dalam kehendak-Nya' di atas. Padahal, semata-mata kita kurang memahaminya secara holistik.

QS. An Nisaa’ (4): 79
Segala kenikmatan yang kamu peroleh berasal dari Allah, dan segala bencana yang menimpamu disebabkan oleh (keterbatasan) dirimu sendiri… 

6. Maka takdir jelek dan takdir baik itu sebenarnya terjadi disebabkan oleh keterbatasan manusia di dalam berkehendak. Seandainya dia berkehendak searah dengan kehendak Allah yang LEBIH HOLISTIK, maka dia akan memperoleh kebaikan. Tetapi, karena dia berkehendak dengan ‘kehendak Allah’ yang parsial di dalam dirinya, dia pun memperoleh musibah.

Maka, dalam konteks ini, kita menjadi paham kenapa ada takdir baik dan takdir buruk. Karena, manusia sering terburu nafsu menampilkan egonya lebih tinggi dari Ego Allah, mendahulukan kehendaknya daripada kehendak Allah, menyombongkan kepintarannya dibandingkan ilmu Allah, mendahulukan kepentingannya dibandingkan ‘kepentingan’ Allah, dan seterusnya.

Allah pun lantas mengingatkan, barangsiapa menonjolkan kepentingan egoistiknya, ia bakal menemui bencana. Dan barangsiapa mengikuti petunjuk-Nya ia akan memperoleh kebaikan. Disinilah muncul ayat tentang tanggung jawab itu.

QS. Al Mudatstsir (74): 37-38
Bagi siapa saja di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya,

Artinya, kehendak 'maju' itu berada di dalam kehendak Allah. Tetapi kehendak 'mundur' pun berada di dalam kehendak Allah. Silakan memilih dengan segala konsekuensinya. Karena nikmat dan bencana itu juga berasal dari Allah, disebabkan oleh pilihan yang kita lakukan sendiri.

7. Namun demikian, Allah pun BERKEHENDAK untuk mengampuni segala kekeliruan yang kita lakukan dikarenakan segala keterbatasan kita itu. Siapa pun yang datang kepada-Nya memohon ampunan pasti diampuninya, karena Dia adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Semua terserah kepada kehendak-Nya..!

QS. An Nisaa’ (4): 110
Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Wallahu a’lam bishshawab.


~ Salam ‘Mudah-mudahan Tidak Bingung Lagi’ ~

~ LEBIH JAUH TENTANG TAKDIR & KEHENDAK (2) ~

0 komentar

'KEMARIN' ITU TIDAK ADA, 'BESOK' PUN TIDAK ADA

Salah satu kesalahan yang mendasar dalam memahami Takdir adalah mencoba melihatnya dari sudut pandang Tuhan. Kita membayangkan bahwa kita adalah Tuhan, dengan segala Kemahatahuan-Nya. Padahal, kita tidak pernah bisa keluar dari ruang & waktu, bahkan untuk sekedar melihat alam semesta yang kita tempati. Apalagi, berkhayal menjadi Tuhan yang Maha Tahu.

Teori-teori ruang & waktu yang berkembang sejak era klasik sampai sekarang sebenarnya baru ‘menebak-nebak’ bentuk alam semesta. Dulu, tebakan Newton dianggap benar sepenuhnya. Ternyata Albert Einstein menemukan kelemahan yang mendasar, sehingga orang lebih memilih teori Einsteinian dalam memahami alam semesta secara lebih holistik. Dalam ruang-waktu yang variable.

Tapi, jangan salah, teori Einstein pun ternyata memiliki kelemahan mendasar dalam memahami ruang-waktu, yakni ketika di-cross-kan dengan fakta ‘interaksi real-time’ antar partikel sub atomic dalam ruang-waktu alam semesta. Teorinya menjadi runtuh bertabrakan dengan postulatnya sendiri: bahwa kecepatan tertinggi di alam semesta adalah cahaya. Dengan kata lain, rumus Einstein tidak bisa lagi digunakan untuk menjelaskan ‘secara holistik’ tentang ruang-waktu, dimana segala peristiwa terjadi di dalamnya.

Maka, pemahaman Takdir berlandaskan teori Einstein dengan sendirinya tidak lagi valid secara holistik. Dan hanya bisa digunakan secara parsial. Sehingga, kalau ada yang memahami alam semesta sebagai time-space block Einsteinian, ia hanya akan menghasilkan sudut pandang parsial dalam memahami terjadinya peristiwa di dalam universe.

Justru karena itulah saya mengelaborasi teori yang lebih baru, yakni teori Holografik. Dimana teori ini dimunculkan untuk mengatasi kelemahan teori Einstein dalam hal interaksi real-time tersebut. Tetapi, sayangnya, pembahasan kritis yang diajukan oleh Brian Koentjoro malah ‘mundur lagi’ ke teori Einsteinian, sehingga nggak ketemu dalam frame yang sama. Padahal, dengan sangat jelas saya menggunakan pijakan holografik untuk menjelaskan Takdir dan Kehendak.

Bahwa, segala peristiwa ini adalah proyeksi holografik dari sebuah ‘realitas tunggal’ yang ada di dimensi lebih tinggi. Baik berupa peristiwa maupun berupa kehendak. Menggunakan teori Einstein tentang ruang waktu yang melengkung saja, ternyata tidak cukup. Karena, kelengkungan alam semesta yang demikian besar itu menjadi absurd ketika ditempuh dengan kecepatan cahaya sekali pun.

Cobalah bayangkan, ada dua benda langit yang berjarak 1 miliar tahun cahaya. Itu artinya, proses interaksi antara kedua benda langit itu membutuhkan waktu selama 1 miliar tahun. Ini menyalahi FAKTA bahwa interaksi antar keduanya terjadi secara real-time. Jadi, kalau Anda masih menggunakan teori Einstein, tanpa memadukan dengan teori holografik yang mengelaborasi adanya dimensi lebih tinggi, Anda akan terjebak pada pemahaman parsial yang mbuleti sendiri. Kenapa? Ya, karena teori ruang-waktu Einsteinian nggak cukup untuk membahasnya.

Teori itu tidak bisa menjelaskan hubungan takdir satu dengan takdir lainnya yang terpisah dalam rentang jarak yang jauh dalam skala universe. Misalnya, kenapa pusat gravitasi alam semesta masih saja ‘mengikat’ benda-benda langit yang bergerak menjauh dalam jarak miliaran tahun cahaya. Jadi, kenapa kita masih saja bertahan menggunakan teori Einstein untuk menjelaskan hubungan ruang-waktu universe dengan Tuhan? Padahal, Tuhan adalah ‘Sesuatu’ yang ‘meliputi’ universe.

Bagaimana Anda bisa memahami adanya ‘Sesuatu’ yang meliputi universe, sementara alam semesta didefinisikan sebagai ruang yang hanya berdimensi tiga? Disinilah teori Einstein tidak bisa menjelaskan, kecuali mengakui adanya ruang berdimensi lebih tinggi. Yang mana dimensi lebih tinggi itu memuat ruang-ruang langit berdimensi lebih rendah. Dan, seluruh interaksi antar benda langit bisa terjadi dengan cara ‘menerobos’ kedalaman dimensi yang lebih tinggi, yang menyebabkan waktu interaksi jauh lebih cepat, bahkan real-time.

Jadi, sebelum Anda memformulasikan hubungan antara Tuhan dengan makhluk-Nya, tidak bisa tidak Anda harus terlebih dulu menemukan penjelasan teknisnya. Disinilah kenapa saya ‘terpaksa’ menjelaskan secara njlentreh perbandingan teori-teori yang ada dengan berbagai kelemahannya, baru kemudian menyimpulkannya secara filosofis. Bahwa, hubungan antara Tuhan dengan makhluk-Nya itu bisa didekati dengan teori Holografik yang selangkah lebih maju dari teori Einstein tentang ruang dan waktu.

Menurut saya, teori ini sangat smart dalam menjelaskan realitas. Bahwa realitas ‘dulu’ dan ‘nanti’ itu sebenarnya tidak ada. Yang ada itu ‘sekarang’. Ruang adalah proyeksi diri-Nya: ‘sekarang’. Waktu juga proyeksi dirinya: ‘sekarang’. Dan seluruh peristiwa adalah proyeksi diri-Nya: ‘sekarang’. Semuanya terjadi secara real-time.

‘Kemarin’ sudah ‘tidak ada’. Sebagaimana ‘besok’ pun ‘tidak ada’. Kemarin adalah sekedar memori peristiwa yang membekas di sistem saraf otak kita. Realitasnya TIDAK ADA lagi. Badan Anda kemarin sudah tidak ada. Karena badan Anda yang sekarang ini sudah berbeda secara substantive dengan kemarin. Rambut sudah lebih panjang atau memutih. Kuku juga. Seluruh organ-organ dan triliunan sel tubuh Anda berbeda dengan sebelumnya, bahkan jika dibandingkan dengan semenit yang lalu.

Realitas adalah SEKARANG. Bukan tadi, atau nanti. Ini tidak bisa dijelaskan oleh teori Einstein, yang memandang ‘tadi’ dan ‘nanti’ itu ada secara parallel dengan ‘sekarang’. Yang begini ini, dengan sangat baik dijelaskan oleh teori holografik. Bahwa semua takdir bisa berlangsung secara real-time: sekarang. Kenapa bisa sekarang? Karena, ruang-waktu-peristiwa adalah sebentuk proyeksi belaka: disini dan sekarang. Sedang dimulai, sedang berlangsung, dan sekaligus diakhiri..!

Kita tidak punya pijakan apa pun untuk mengatakan bahwa Allah ‘sudah’ menakdirkan, atau ‘belum’ menakdirkan. Karena, yang disebut takdir itu adalah ketika ‘terjadi’: sekarang, sebagai proyeksi dari diri-Nya. Baik yang berupa kehendak, maupun peristiwanya. Kehendak Anda semenit yang lalu itu hanya ilusi. Tidak ada realitasnya. Yang ada ialah kehendak sekarang: saat ini. Yang sedang terjadi. Dan semua itu ada dalam kehendak Allah, ditentukan lewat takdir-Nya: saat ini juga. Maka, setiap makhluk di alam semesta ini hanya berpindah dari satu takdir ke takdir lainnya: sekarang.

QS. Al Hadiid (57): 3
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

QS. An Nisaa’ (4): 126
Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu.

Karena bagi Allah ‘dulu’ dan ‘nanti’ adalah: ‘sekarang’, maka dengan sendirinya Dia menjadi Maha Mengetahui. Bukan karena waktu berjalan secara urutan ataupun paralel, melainkan karena waktu ‘tidak bergerak’ di dalam-Nya. Dimensi waktu yang bergerak itu adalah jika dipandang secara Einsteinian. Dalam pandangan holografik, waktu tidak bergerak. Karena ‘dulu’ dan ‘nanti’ hanyalah ‘kesan’ yang terbentuk di sistem saraf otak kita. Yang riil itu adalah: ‘sekarang’. Dan, Allah menempatkan seluruh kejadian ‘sekarang’ itu dalam kitab kenyataan bernama Lauh Mahfuzh. Yang bisa dihapus atau ditetapkan secara real-time oleh-Nya, dan langsung menjadi kenyataan. Terserah pada kehendak-Nya

QS. Al Hajj (22): 70
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.

QS. An Naml (27): 75
Tidak ada sesuatu pun yang gaib di langit dan di bumi, melainkan di dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

QS. Ar Ra’d (13): 39
Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).

Pembahasan soal Takdir dan Kehendak ini memang cukup kompleks dan membutuhkan daya imajinasi yang baik, terutama dalam tataran filosofis. Karena, harus bisa merangkum seluruh kemungkinan yang rumit. Tetapi, dalam ranah operasional, sebenarnya Allah memberikan petunjuk yang sangat sederhana. Bahwa, karena setiap makhluk berada di dalam ruang dan waktu, maka manusia harus selalu menjadikan hari esoknya lebih baik dari sekarang.

Allah memberikan derajat keleluasaan tertentu kepada manusia untuk ‘mengubah takdir’ masa lalunya menjadi takdir masa depan yang lebih baik. Kalau takdir Anda kemarin adalah miskin, maka Anda diberi peluang untuk mengubahnya lewat sunnatullah, menjadi lebih kaya. Kalau Takdir Anda kemarin adalah ‘sakit’, maka Anda diberi peluang untuk mengubah Takdir masa lalu itu menjadi ‘sembuh’. Dan seterusnya.

QS. Ar Ra’d (13): 11
… Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan (takdir yang sudah terjadi) pada suatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan (takdir yang sudah terjadi) yang ada pada diri mereka sendiri…

Wallahu a’lam bishshawab

countinue to part 3....

~ LEBIH JAUH TENTANG TAKDIR & KEHENDAK (1) ~

0 komentar
source : http://www.facebook.com/notes/agus-mustofa/-lebih-jauh-tentang-takdir-kehendak-1-/10150623288581837

dear my readers saya menemukan ada notes yang bagus mengenai takdir artikelnya dibagi menjadi bebereapa part dan saya copy langsung dari Fb nya bapak Agus Mustofa..semoga bermanfaat :)

JANGAN SEPERTI ORANG BUTA 'MELIHAT' GAJAH 


Bagian yang paling ‘membingungkan’ bagi sejumlah kawan di dalam forum DTM ini adalah hubungan antara kehendak makhluk di dalam KEHENDAK Tuhan. Ujung pangkal kebingungan itu saya lihat bermula ketika kita mengira bahwa KEHENDAK Tuhan itu sama dengan kehendak kita. Atau, setidak-tidaknya, kita merasa tahu kehendak Tuhan, dan bahkan menempatkan diri lebih tahu daripada Tuhan. Hhehe.., lha wong menebak kehendak saya saja Anda tidak bisa, kok mau menebak kehendak Tuhan.. ;)

Untuk bisa memahami posisi kehendak manusia di dalam kehendak Allah, saya ingin mengajak Anda menelusurinya dari ujung pangkalnya, dan mengambil pijakan dari sumber otentik: Firman Allah.

1. Bahwa seluruh alam semesta ini adalah MILIK-Nya dan DILIPUTI-Nya. Baik itu berupa dimensi ruang, waktu, materi, energi, dan informasi. Termasuk peristiwa ‘baik’ dan ‘buruk’, anugerah dan musibah, adalah milik-Nya dan berada di dalam-Nya. Diliputi-Nya.

QS. An Nisaa’ (4): 126
Kepunyaan Allah-lah segala yang di langit dan segala yang di bumi, dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu.

2. Bukan hanya diliputi-Nya, baik dan buruk itu ternyata juga BERASAL dari-Nya. Orang-orang yang menganggap kebaikan datang dari Allah, dan keburukan datang dari manusia disebut sebagai ‘tidak mengerti’ pembicaraan.

QS. An Nisaa’ (4): 78
… Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?

3. Semua kejadian di alam semesta ini adalah KEHENDAK-NYA. Dan ketika menghendaki semua realitas ini Dia hanya mengatakan KUN – 'jadilah', maka mewujudlah segala yang Dia kehendaki itu. Termasuk ketika Allah menciptakan manusia.

QS. An Nahl (16): 40
Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "KUN (jadilah)", maka jadilah ia.

QS. Ali Imran (3): 59
Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa di sisi Allah, adalah seperti Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: KUN (jadilah), maka jadilah dia.

4. Karena manusia diliputi Allah, maka kehendak manusia pun diliputi atau berada di dalam Kehendak Allah. Bahkan, bukan hanya di dalam-Nya, melainkan ‘tidak bisa berkehendak’ kecuali dikehendaki-Nya.

QS. At Takwiir (81): 29
Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.

5. Lantas, kalau begitu apakah berarti kehendak manusia SAMA dengan kehendak Allah? Nah, disinilah distorsi pemahaman yang sering terjadi. Sehingga ada yang mengatakan: kalau kehendakku adalah kehendak Allah, kenapa saya masih disuruh bertanggung jawab? Kan ini sama saja dengan mempertanggungjawabkan kehendak Allah sendiri?

Kalau Anda mengikuti sejumlah notes saya tentang keberadaan makhluk di dalam Tuhan, mestinya Anda sudah bisa menarik kesimpulan yang cukup baik. Bahwa, berada di dalam Allah itu bukan berarti SAMA DENGAN Allah. Saya kira Anda masih ingat analogi ‘Himpunan Tak Berhingga’ yang memuat angka-angka. Jika Allah diibaratkan sebagai SEMESTA PEMBICARAAN dalam himpunan tak berhingga itu, maka makhluk bisa diibaratkan angka-angka yang menjadi anggotanya.

Misalnya, angka 1 adalah manusia, angka 2 adalah hewan, angka tiga tumbuhan, angka 4 adalah malaikat, dan seterusnya termasuk benda-benda langit, ruang, waktu, materi, energi, dan informasi, berserta dengan segala peristiwa yang terjadi di dalamnya. Maka, tentu Anda sudah bisa mengambil kesimpulan sendiri bahwa angka 1 tidaklah sama dengan angka ‘tak berhingga’. Atau dengan kata lain, manusia tidak sama dengan Tuhan meskipun manusia berada di dalam Tuhan.

Jika diperluas, kehendak manusia TIDAK SAMA dengan kehendak Tuhan. Penglihatan manusia TIDAK SAMA dengan penglihatan Tuhan. Pendengaran manusia TIDAK SAMA dengan pendengaran Tuhan. Dan segala sifat manusia TIDAK SAMA dengan sifat-sifat Tuhan. Manusia mendengar, Tuhan MAHA mendengar. Manusia melihat, Tuhan MAHA melihat. Manusia berkehendak, Tuhan MAHA berkehendak. Manusia berada dalam segala KETERBATASAN, sedangkan Allah dalam skala yang tak terbayangkan. Tak berhingga.

Perbandingan antara sifat manusia dengan sifat Tuhan adalah ibarat angka 1 dibagi dengan angka tak berhingga, hasilnya = NOL. Ya, manusia di dalam Allah adalah NOL alias semu. Ada lambangnya, tapi tak ada isinya. Itulah makna kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH – tidak ada sesuatu pun yang eksis kecuali hanya Allah. Siapa pun yang tidak bisa menerima kemutlakan eksistensi Allah ini berarti dia telah mengingkari syahadatnya.

Maka, memahami kehendak manusia di dalam kehendak Allah haruslah proporsional. Tidak serta merta MENYAMAKAN kehendak makhluk dengan kehendak-Nya. Kehendak manusia hanya menempati BAGIAN yang sangat PARSIAL dalam kehendak-Nya yang holistik. Dengan kehendak yang parsial itulah manusia bisa mengalami kekeliruan dan kesalahan yang menyebabkan terjadi keburukan padanya. Ini pula yang dikatakan Allah di dalam firman-Nya, bahwa kebaikan berasal dari Allah, sedangkan keburukan berasal dari (keterbatasan) manusia. Sebuah pemahaman yang seakan-akan kontradiktif dengan ayat 'kehendakku di dalam kehendak-Nya' di atas. Padahal, semata-mata kita kurang memahaminya secara holistik.

QS. An Nisaa’ (4): 79
Segala kenikmatan yang kamu peroleh berasal dari Allah, dan segala bencana yang menimpamu disebabkan oleh (keterbatasan) dirimu sendiri…

6. Maka takdir jelek dan takdir baik itu sebenarnya terjadi disebabkan oleh keterbatasan manusia di dalam berkehendak. Seandainya dia berkehendak searah dengan kehendak Allah yang LEBIH HOLISTIK, maka dia akan memperoleh kebaikan. Tetapi, karena dia berkehendak dengan ‘kehendak Allah’ yang parsial di dalam dirinya, dia pun memperoleh musibah.

Maka, dalam konteks ini, kita menjadi paham kenapa ada takdir baik dan takdir buruk. Karena, manusia sering terburu nafsu menampilkan egonya lebih tinggi dari Ego Allah, mendahulukan kehendaknya daripada kehendak Allah, menyombongkan kepintarannya dibandingkan ilmu Allah, mendahulukan kepentingannya dibandingkan ‘kepentingan’ Allah, dan seterusnya.

Allah pun lantas mengingatkan, barangsiapa menonjolkan kepentingan egoistiknya, ia bakal menemui bencana. Dan barangsiapa mengikuti petunjuk-Nya ia akan memperoleh kebaikan. Disinilah muncul ayat tentang tanggung jawab itu.

QS. Al Mudatstsir (74): 37-38
Bagi siapa saja di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya,

Artinya, kehendak 'maju' itu berada di dalam kehendak Allah. Tetapi kehendak 'mundur' pun berada di dalam kehendak Allah. Silakan memilih dengan segala konsekuensinya. Karena nikmat dan bencana itu juga berasal dari Allah, disebabkan oleh pilihan yang kita lakukan sendiri.

7. Namun demikian, Allah pun BERKEHENDAK untuk mengampuni segala kekeliruan yang kita lakukan dikarenakan segala keterbatasan kita itu. Siapa pun yang datang kepada-Nya memohon ampunan pasti diampuninya, karena Dia adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Semua terserah kepada kehendak-Nya..!

QS. An Nisaa’ (4): 110
Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Wallahu a’lam bishshawab.

continue to part 2

Kamis, 05 Juli 2012

Tanda Jodoh: Memaklumi, Memaafkan Dan Memberi

0 komentar

By: M. Agus Syafii

Sahabatku, urusan Jodoh itu ditangan Allah, nah lalu bagaimana cara mengenali jodoh dalam islam. Tips ini berguna bagi anda yang sedang mencari jodoh . Tanda jodoh dalam Islam itu adalah 3 M. Apa itu? Siapa yang paling bisa memaklumi, memaafkan dan memberi. Insya Allah dia jodoh anda. Jadi kalau mau mencari jodoh, carilah yang bisa melakukan memaklumi, memaafkan dan ingin selalu memberi supaya hubungan cinta dapat langgeng dan tidak rapuh. Jadi jodoh itu tidaklah didasarkan nafsu duniawi, ganteng, kaya namun lihatlah kokoh aqidahnya, rajin ibadah dan indah akhlaknya.

Sahabatku, Kebahagiaan didalam hidup ini kita bersama jodoh kita bisa mengarungi bahtera kehidupan dalam menghadapi badai & gelombang kehidupan. Komunikasi, saling menyesuaikan diri dengan pasangan, pengorbanan, ingin selalu memberi, memaklumi & memaafkan hanya akan hadir bila di dalam hati kita ada keimanan pada Allah maka Allah melimpahkan keindahan dalam hidup kita bersama orang yang kita cintai. 'Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekuarngan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang2 yang sabar, yaitu orang2 yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan, 'Inna lillahii wa innaa ilaihi raajiuun' (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami kembali). Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurnah & rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang2 yang mendapatkan petunjuk.' (QS. al-Baqarah : 155-157).

--
Sahabatku, yuk..aminkan doa ini untuk mendapatkan jodoh yg terbaik dari sisi Allah.'Rabbana hablana milladunka zaujan thayyiban wayakuna shahiban lii fiddini waddunya wal akhirah' Artinya. 'Ya Tuhan kami, berikanlah kami pasangan yg terbaik dari sisiMu, pasangan yg juga menjadi sahabat kami dlm urusan agama, urusan dunia & akhirat.'

Wassalam,
Muhamad Agus Syafii

sumber : Mukjizat Shalat & doa , Facebook Fan page.. :)